BSY6Tpd7TfW7TfOpGpY6TpMiTA==

Sekolah di Pinggiran Kota, Prestasi Tak Pinggiran: Kisah SMAN 17 Pekanbaru

 


GASPOLNEWS || PEKANBARU — Di balik keterbatasan sarana, akses jalan yang sulit, dan kondisi sosial ekonomi siswa yang mayoritas berasal dari keluarga menengah ke bawah, SMA Negeri 17 Pekanbaru perlahan menunjukkan geliat prestasi yang membanggakan. Semua itu tak lepas dari peran Kepala Sekolah, Dra. Elmida, yang sejak awal dipercaya memimpin sekolah tersebut.

Elmida resmi diangkat sebagai Kepala SMAN 17 Pekanbaru pada 27 Desember 2023. Hingga kini, ia telah mengemban amanah tersebut selama kurang lebih dua tahun satu bulan. Sejak awal penugasan, ia harus menghadapi tantangan besar: membangun sekolah baru dari nol, di lokasi yang kala itu masih dikelilingi semak belukar dan minim akses.

Pada awal operasional tahun ajaran 2023–2024, kegiatan belajar mengajar SMAN 17 Pekanbaru masih menumpang di gedung guru di Jalan Lobak Kelurahan Delima Kecamatan Bina Widiya Sekolah mulai beroperasi dengan jumlah siswa hanya 76 orang. Baru pada tahun 2025, sekolah ini resmi menempati gedung baru di kawasan Jalan Fajar Raya dengan jumlah siswa melonjak menjadi sekitar 460 orang.

Meski tergolong sekolah baru, prestasi siswa SMAN 17 Pekanbaru mulai bermunculan. Dalam dua tahun terakhir, sekolah ini mencatat berbagai capaian, di antaranya Juara Harapan I lomba Multiliterasi Fungsi tingkat Provinsi Riau, Harapan I Komik Digital FLS2N tingkat Kota Pekanbaru, Harapan I Gitar Solo FLS2N, serta Harapan III Komik Digital FLS2N Kota Pekanbaru tahun 2024.

Tak hanya itu, di bidang debat, siswa SMAN 17 Pekanbaru berhasil mewakili Kota Pekanbaru ke tingkat provinsi dalam dua tahun berturut-turut. Pada tahun 2024, salah satu siswa bahkan masuk Top 10 Best Speaker tingkat Provinsi Riau. Prestasi lainnya diraih pada lomba Debat Konstitusi di Fakultas Hukum Universitas Andalas, di mana tim SMAN 17 Pekanbaru menembus empat besar tingkat regional Sumatera.

Tahun ini menjadi momen penting bagi SMAN 17 Pekanbaru. Sekolah tersebut meluluskan angkatan pertamanya setelah berhasil meraih akreditasi, yang membuka peluang bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi rapor hingga 40 persen, setara dengan sekolah-sekolah negeri lainnya.

Elmida menegaskan, keterbatasan ekonomi orang tua siswa bukanlah penghalang untuk berprestasi. Menurutnya, yang terpenting adalah menanamkan mental tangguh dan kemauan kuat kepada peserta didik. Sekolah, kata dia, berupaya memaksimalkan peran guru dalam membina prestasi, sekaligus menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan melalui nota kesepahaman (MoU), seperti dengan LP3I dan Uniper.

“Kami tidak pernah memaksa orang tua soal biaya. Dukungan yang kami minta adalah dukungan moral dan waktu untuk anak-anaknya. Selebihnya, sekolah dan guru akan berjuang bersama siswa,” ujarnya.

Bagi Elmida, suka duka mengabdi di SMAN 17 Pekanbaru justru menjadi kelebihan yang tak terlupakan. Ia mengenang masa-masa guru harus melewati jalan berlumpur, bahkan mendorong motor demi bisa sampai ke sekolah. Pengalaman itu, menurutnya, membentuk karakter kuat baik bagi guru maupun siswa.

Pesan yang terus ia tanamkan kepada peserta didik sederhana namun mendalam: jangan takut bermimpi, meski berasal dari keluarga sederhana. Dengan kemauan, kerja keras, dan ketangguhan, peluang untuk sukses tetap terbuka. (Rls)

Komentar0

Type above and press Enter to search.